Ajatappareng

Jembatan Bojo Jebol, Struktur Pelat tak Diperiksa, Dekan UM: Kelalaian Pengawas

Jembatan Bojo

PAREPOS.CO.ID,BARRU– Dekan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (UM) Parepare, Dr Muhammad Natsir menilai, jembatan jebol di salah satu panel. Sebelumnya jembatan itu terlihat retakan-retakan. “Pengawas jembatan kemungkinan besar lalai dalam mengkroscek seberapa jauh dampak retakan-retakan yang ada di pelat lantai jembatan. Karena kalau dilihat secara sepintas, memang tulangan terputus antarpanel,” katanya, kemarin.

Natsir mengharapkan agar kasus itu diinvestigasi. Sudah saatnya dinas terkait memeriksa semua jembatan, termasuk di Parepare. “Jembatan Sumpang Parepare juga saya lihat mengalami retakan-retakan. Sudah berulang kali ditambal. Ini harus menjadi perhatian,” harapnya.Dikatakan, pengawas jembatan harus selalu mengawasi seberapa jauh kekuatan jembatan dari tahun ke tahun. Diperiksa secara periodik kualitas jembatan. “Jembatan di Bojo bermula dari retakan-retakan. Kalau lewat saya lihat ada retakan. Tapi pihak terkait hanya menambal. “Tetapi struktur pelat tidak pernah diperiksa utuh. Jadi ketika beban kendaraan yang berulang melewati jembatan, secara periodik kualitas struktur pelat jembatan mengalami penurunan,” ungkapnya.

Dia menyebutkan, dengan beban kendaraan besar yang melewati jembatan, terjadi kerusakan struktur. Sehingga penanganannya harus semuanya diperbaiki. Natsir menambahkan, beberapa tahun ini jembatan Bojo yang selalu ditambal, kemungkinan tidak pernah melakukan kroscek secara periodik strukturnya. Padahal beban kendaraan luar biasa melewati jembatan karena jalan nasional. “Ketika tidak ada perbaikan secara struktural dari pelat jembatan yang mengalami retakan, pasti pelat jembatan itu akan jebol,” jelasnya.

Ia menyampaikan, mestinya ada pengecekan enam bulan sekali. Natsir pun mengkhawatirkan jembatan lain, termasuk Sumpang. Karena biasanya hanya ditambal. Namun Kepala BBPJN XIII, Miftachul Munir, menyebut penyebab amblasnya jembatan di Bojo karena truk yang over kapasitas. Mengingat sebelum kejadian, kondisi jembatan masih layak dilintasi. “Itu truk 10 roda yang mengangkut pupuk sekitar 600 zak. Kalau satu zak 50 kilogram, maka angkutannya saja sudah mencapai 30 ton. Ditambah berat mobil sekitar 8 ton. Sedangkan daya beban jembatan kira-kira 20 ton. Jadi memang over. Beton patah karena tidak mampu menahan beban,” urai Mifctahul. Pihak BBPJN menegaskan, kontruksi jembatan masih kokoh. (lim)

Loading...
Loading...

TRENDING

To Top