2.014 Rumah Rusak di Sidrap, BPBD Sidrap: Waspada Angin Monsun 9-12 Januari 2020

  • Whatsapp
2.014 Rumah Rusak di Sidrap, BPBD Sidrap: Waspada Angin Monsun 9-12 Januari 2020

PAREPOS.CO.ID, SIDRAP — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sidrap merilis data terbaru kerusakan akibat angin kencang, Rabu malam, 8 Januari 2020.

Hingga pukul 20.51 wita, Pusat Pengendalian dan Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Sidrap sudah mencatat 2.014 rumah rusak akibat angin kencang pada Minggu sore, 5 Januari 2020.

Bacaan Lainnya

Kerusahan rumah terjadi di 85 desa/kelurahan yang ada di 11 Kecamatan di Kabupaten Sidrap.

Ribuan rumah yang rusak itu terdiri dari 158 rusak berat, 219 rusak sedang dan 1.637 rusak ringan. Kerusakan yang paling banyak terjadi di Kecamatan Maritenggae yakni sekitar 490 rumah.

Selain rumah, kerusakan juga terjadi pada 6 unit sarana pendidikan, 1 unit gedung serbaguna (umum), 3 unit kantor pemerintahan, 30 unit usaha ekonomi dan 1 unit sarana ibadah.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun kerugian mencapai Rp8,6 miliar lebih.

Kepala BPBD Sidrap, Siara Barang diposko induk siaga bencana di Makodim 1420 Sidrap mengatakan hal tersebut.

“Yah, data saat ini kita sudah catat total ada 2.014 rumah yang rusak belum termasuk beberapa fasilitas umum seperti sarana pendidikan, pemerintahan, tempat ibadah dan usaha perekonomian lainnya,” ucapnya.

Kerugian material yang paling banyak itu di Kecamatan Watang Pulu sekitar Rp2 miliar lebih, kemudian di Kecamatan Maritenggae sekitar Rp1 miliar lebih. Sementara di kecamatan lain rata-rata antara Rp200 juta hingga Rp900 juta.

Umumnya tingkat kerusakan material itu pada bagian atap seperti seng maupun dinding. Bahkan ada rumah warga yang ambruk akibat terjangan angin kencang disertai hujan deras.

Sementara, untuk biaya perbaikan rumah warga Pemkab Sidrap akan berusaha menyalurkan bantuan itu dalam waktu dekat tentunya terlebih dahulu akan berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat.

Untuk perbaikan rumah korban bencana, tim gabungan TNI-Polri sudah berada di beberapa lokasi untuk membantu warga.

Disisi lain, Kepala BPBD Sidrap masih terus mengeluarkan himbauan waspada bencana susulan.

Siara Barang menyebutkan bahwa angin monsun Asia diprediksi akan lintasi wilayah Sulsel pada 10-12 Januari mendatang.”Jadi warga harus hati-hati,” ucapnya.

Dia mengatakan, hal itu berdasarkan himbauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV.

Dia mengatakan, BMKG telah encermati perkembangan kondisi dinamika atmosfer terkini menunjukkan terjadinya peningkatan aktifitas Monsun Asia.

Itu dapat menyebabkan penambahan massa udara basah, pola pertemuan massa udara (konvergensi) dari Laut Jawa hingga Sulawesi.

Kemudian juga adanya Madden Julian Oscillation (MJO) fase basah yang bergerak menuju Indonesia bagian Tengah.

Menurutnya, kondisi dinamika atmosfer tersebut meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Sulawesi Selatan.

Telah terjadi peningkatan intensitas curah hujan secara berturut-turut dengan kategori lebat hingga ekstrem (>50mm/hari) dalam kurun waktu satu pekan terakhir.

Hingga diperkirahkan pada 09 – 12 Januari 2020), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang diprakirakan masih dapat berpotensi terjadi di wilayah Sulawesi Selatan.

Itu akan terjadi pada bagian barat meliputi kabupaten/kota Pinrang, Pare-Pare, Barru, Pangkep Kepulauan, Maros, dan Makassar.

Wilayah Sulawesi Sclatan bagian Tengah meliputi Kabupaten Soppeng dan Sidenreng Rappang (Sidrap).

Wilayah Sulawesi Selatan bagian Utara meliputi Kabupaten Luwu Utara, Luwu Timur, Luwu, dan Toraja Utara.

Serta potensi angin kencang di pesisir barat, selatan, dan timur Sulawesi Selatan. Selain itu masyarakat dihimbau agar mewaspadai gelombang tinggi di perairan sekitar Sulawesi Selatan.

Gelombang dengan ketinggian 1.25-2.5 m terjadi di Sclat Makassar bagian selatan, Perairan Spermonde Makassar, perairan Pare-Pare, Perairan Sabalana, Perairan Selayar, Teluk Bone bagian selatan, dan Laut Flores bagian barat.

Rough Sea (Gel. 2.5-4.0 m) terjadi di Laut Flores bagian utara, Laut Flores bagian timur, dan Perairan Pulau
Bonerate-Kalotoa.

Masyarakat dan pengguna layanan transportasi darat/laut/udara dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan dari curah hujan tinggi, angin kencang, dan gelombang tinggi yang akan terjadi pada 4 hari kedepan (09 – 12 Januari 2020).

Antara lain potensi banjir, genangan, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, meluapnya area tambak budidaya, dan keterlambatan jadwal penerbangan/pelayaran. (ira/ade)

Pos terkait