Proyek Irigasi BWSS III Palu Tuai Sorotan Petani di Polman, Ini Alasannya

  • Whatsapp
Proyek Irigasi BWSS III Palu Tuai Sorotan Petani di Polman, Ini Alasannya

PAREPOS.CO.ID, POLMAN — Proyek pekerjaan irigasi sekunder yang dikerjakan Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) III Palu dikeluhkan warga di tiga desa di Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Tiga desa tersebut yakni Desa Banua Baru dan Bakka-Bakka di Kecamatan Wonomulyo serta Desa Ugi Baru di Kecamatan Mapilli.

Keluhan warga dari tiga desa tersebut terkait pekerjaan proyek yang tidak sesuai dengan harapan, khususnya petani yang sawahnya dilalui pengairan. Hal itu diungkapkan salah satu petani yang dilalui sawahnya yang juga menjabat Kepala Dusun Banua Baru, Muh Husni. Dia mengatakan, pekerjaan yang dikerjakan oleh BWSS III Palu tidak sesuai dengan harapan petani.

Bacaan Lainnya

Betapa tidak, kata Husni, waktu masih irigasi tanah yang mengairi sawah petani tidak pernah mengeluh seperti kondisi saat ini, karena air yang mengalir sampai ke Desa Banua Baru tidak pernah kurang. Namun, setelah dikerja oleh BWSS air sudah tidak mencukupi karena pintu irigasi tidak boleh dibuka full dengan alasan akan meluap, sehingga pintu yang terbuka hanya separuh saja.

Dampaknya, tiga desa yang dilalui irigasi tidak maksimal memanfaatkan air mengalir. ” Desa Banua Baru saja luas sawahnya sekitar 200 hektare , Bakka-Bakka 10 hektare dan Ugi Baru itu kurang lebih 20 hektare. Proyek pekerjaan irigasi ini bukan menguntungkan petani melainkan merugikan,”tegasnya, Rabu 11 Desember, saat memantau kondisi irigasi tersebut.

Senada disampaikan Kepala Desa Banua Baru, Taufik Mustaman menyampaikan, pekerjaan BWSS tersebut diduga ada kesalahan tehnik sebab briket yang digunakan itu terlalu sempit dan dalam. ” Warga petani justru disusahkan dengan jadinya pekerjaan itu, bayangkan waktu uji coba dibuka pintu irigasi setinggi 10 Cm air sudah meluap, padahal biasanya pintu Irigasi itu dibuka setinggi 30-35 cm air sudah maksimal mengairi tiga desa,”ungkap Taufik.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengawasan Publik (LPP) Mandat Kabupaten Polman, Muh Patman dalam investigasinya menemukan ada kejanggalan pada pekerjaan tersebut. Ia menilai briket yang digunakan pun tidak berstandar Nasional Indonesia (SNI), bahkan diduga briket yang dipasang itu dibuat di Wonomulyo.

Belum lagi, pada pengerjaan proyek itu pun ada ketidaksesuaian. “Sebelumnya itu galian irigasi seluas 2 meter, namun yang ada sekarang itu hanya 1 meter luas dan kedalaman pun hanya 1 meter. Masyarakat petani yang mencoba membuka pintu irigasi itu baru 10 Cm air sudah meluap sementara dulu dulunya selalu terbuka full,”ungkapnya. Dari hasil investigasi tersebut, maka pihaknya akan melakukan penyuratan kepada Kementrian yang menaungi BWSS III Palu untuk dimintai klarfikasi terkait pekerjaan tersebut.(win/ade)

Pos terkait