Ratusan Peserta PMR Latihan Bersama di Lapangan Siario

  • Whatsapp
Ratusan Peserta PMR Latihan Bersama di Lapangan Siario

PAREPOS. CO. ID, MAJENE– Sebanyak 31 sekolah dari dua kecamatan yakni Kecamatan Sendana dan Kecamatan Tammerodo Sendana menggelar latihan gabungan PMR tingkat mula. Latihan gabungan PMR mula tersebut dilaksanakan di Lapangan Siario, Dusun Totolisi Tengah, Desa Totolisi Sendana, Jumat 25 Oktober 2019.

Dalam latihan bersama ini, Ketua PMI Kabupaten Majene, Hj Fatmawati Fahmi membuka secara resmi bersama dengan pengurus PMI Kabupaten Majene, kepala sekolah, kepala desa Totolisi Sendana dan Kapolsek Sendana serta undangan lainnya.

Menurut Ketua Panitia, Abdul Rauf Rukka menjelaskan ke 31 sekolah termasuk yang berpartisipasi bersama para bina pendamping berjumlah sekitar 600 orang peserta. Dari jumlah sekolah yang ikut, 23 sekolah dari 24 sekolah yang ada di Kecamatan Sendana. Serta delapan Sekolah dari 13 sekolah yang ada di Kecamatan Tammerodo Sendana.

“Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak termasuk Ketua PMI Kabupaten Majene yang telah memberikan bantuan serta partisipasinya. Begitu juga dengan masing-masing sekolah yang telah memberikan kontribusinya. Sehingga kegiatan ini bisa terlaksana dengan baik, “kata Rauf.

Sementara Ketua PMI Kabupaten Majene, Fatmawati Fahmi cukup mengapresiasi dan bangga melihat semangat para peserta dan para bina pendamping yang turut hadir di acara tersebut. Fatmawati mengatakan, kegiatan latihan bersama ini akan membentuk pribadi yang mandiri, berakhlak mulia serta selalu memupuk kebersamaan.

“Sebenarnya kegiatan PMR itu sudah ada sejak dahulu dan selalu digemari. PMR akan menjadi wadah, membentuk karakter anak – anak khsuusnya kedisiplinan, pendidikan agama, mandiri dan selalu mencintai diantara sesamanya” pungkasnya.

Dengan demikian, Ketua TP PKK Majene itu berharap agar ke depan gerakan bulan sabit, akan semakin berkibar di seluruh kecamatan yang ada hingga skala kabupaten. Selain itu di harapkan pula agar selalu selaras dengan kalender pendidikan di setiap sekolah. Setidaknya, tidak terjadi tumpang tindih yang bisa menganggu dalam kegiatan proses belajar mengajar di masing-masing sekolah bersangkutan. (edy/ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *