Proyek ‘Asal Jadi’ Menuai Sorotan Warga Watang Pulu

  • Whatsapp
Proyek 'Asal Jadi' Menuai Sorotan Warga Watang Pulu

PAREPOS.CO.ID, SIDRAP — Proyek pembangunan jalan beton yang diduga asal jadi menjadi sorotan warga di Kabupaten Sidrap. Satreskrim Polres Sidrap pun bertindak, akan lidik dugaan Tindak Pidana Korupsi (TPK) salah satu proyek jalan beton di Jalan Mandoro, Dusun I Paosadae, Desa Buae, Kecamatan Watang Pulu, Sidrap. Kasat Reskrim Polres Sidrap, AKP Benny Pornika menuturkan hal tersebut saat dihubungi melalui pesan WhatsApp menanyakan terkait persoalan itu, Rabu, 24 Oktober.

Saat ditanya mengenai pembagunan jalan rabat beton di wilayah itu yang diduga tidak sesuai Rencana Anggaran Biaya (RAB), dia mengaku akan lidik. “Nanti kita lidik dulu,” singkatnya. Sebelumnya, pekerjaan jalan tersebut menuai sorotan dari warga. Padahal pekerjaan itu baru saja selesai dikerja pada Oktober 2019 ini.

Pekerjaan itu menggunakan alokasi anggaran bersumber dari APBN Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI dengan nilai anggaran pagu sebesar Rp104 juta ini.

Asumsinya, warga setempat menilai Rabat Beton dikerjakan asal jadi serta dianggap tidak sesuai Besteknya. Fakta ini difokuskan oleh warga jika bestek pengecoran beton sepanjang 120 kali 4,30 meter ini tidak sesuai volume fisik sehingga ada kesan keuntungan lebih banyak diperoleh oleh rekanan internal Desa Buae itu sendiri.

Informasinya, warga yang menemukan kejanggalan fisik dari Beton tersebut seharusnya 20 centimeter, tapi faktanya dilapangan hanya terdapat ketebalan 10 centimeter.

Ini berarti, ada kesan bestek fisik sengaja dimainkan 10 Cm ketebalan dari sesuai RAB yang sumber Dana Desa APBN TA 2019.

Persoalan adanya kesengajaan pengurangan volume fisik beton ini juga turut dibenarkan sejumlah penggiat dan pemerhati Sidrap yang dilontarkan dalam Grup Whatsapp Formasi Institut atau Forum Masyarakat Sidrap Institut.

Dalam kicauannya, disebut dugaan rabat beton itu dikurangi volumenya dengan bunyi : “Klu tidak salah Jln Beton seharusnya 20cm, tapi di lapangan 10 cm,”tulisnya.

Menurut sejumlah warga setempat juga turut membenarkan hal tersebut, pengakuannya jika mutu pengecorannya sangat diragukan.

Pasalnya, pengecorannya hanya terdiri dari semen yang hanya di campur dengan pasir saja, tanpa ada campuran kerikil. Begitu juga dengan ketebalanya.

“Saya sudah cek ke lapangan. Semen yang digunakan untuk rabat beton itu tidak layak. Selain tipis, semennya juga sangat sedikit. Hal ini terlihat dari warna pengecoran. Ketebalannya hanya sekitar 9 – 10 senti saja,” ucapnya sembari meminta namanya tak dimediakan.

Terkait masalah ini yaitu pekerjaan Rabat Beton yang sumber anggarannya dari Dana Desa Buae tahun 2019. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Desa Buae Parno terkesan tertutup mengenai persoalan itu. Sebab, beberapa kali dihubungi dan di SMS namun tidak digubris hingga berita ini dinaikkan. (ira/ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *