Diduga Lakukan Pengrusakan di DPRD Majene, Lima Mahasiswa jadi Tersangka

  • Whatsapp
Diduga Lakukan Pengrusakan di DPRD Majene, Lima Mahasiswa jadi Tersangka

PAREPOS.CO.ID, MAJENE—Tampaknya polisi tidak main-main dalam mengusut tuntas berbagai kejahatan tindak pidana di wilayah hukum Polres Majene. Ini terbukti setelah melakukan proses penyidikan lebih lanjut oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Majene, pasca aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Majene. Polisi sudah menetapkan lima orang mahasiswa sebagai tersangka.

Kasat Reskrim Polres Majene, AKP Pandu Arief Setiawan, Rabu 23 Oktober, menyebutkan, dari lima orang mahasiswa itu, diduga terlibat dalam kasusu tindak pidana pengrusakan di Gedung DPRD Majene, dan penyerangan terhadap anggota Polri saat bertugas di lapangan. Diduga kuat mahasiswa itu dilakukan secara bersama-sama pada aksi unjuk rasa  mahasiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa majene, pada 25 September lalu.

Lima orang mahasiswa yang ditetapkan sebagai tersangka yakni MS (20), MF (21), NSP (27), MIR (21) dan IWK (19). Dan saat ini, kami tidak melakukan penahanan, karena para tersangka koporatif, apa lagi masih berstatus mahasiswa dan harus menjalankan kewajibannya dalam proses belajar mengajar.

Ia menjelaskan, kronologis pengrusakan gedung DPRD Majene, di mana massa aksi unjuk rasa dari aliansi mahasiswa Majene bergerak datang ke gedung DPRD Majene untuk menyampaikan aspirasi tentang penolakan terhadap RUU KPK dan RUU KUH kala itu.

“Nah, pada saat mahasiswa aksi, terus memaksa untuk masuk ke dalam gedung DPRD Majene dengan tujuan untuk menduduki ruang pola dan menyegel gedung DPRD Majene,” sebut Pandu.

Selanjutnya, kata Pandu, massa diperbolehkan masuk di halaman gedung DPRD Majene, setelah sejumlah anggota dewan bernegosiasi dengan catatan harus tertib. Pada saat itu mulailah orasi. Hanya saja, dari salah satu mahasiswa menggiring ban mobil bekas masuk ke halaman gedung DPRD Majene, untuk mengacaukan suasana, sehingga pihak keamanan menghimbau agar tidak membakar ban, namun tidak dihiraukan. Bakar ban pun tetap terjadi membuat suasana semakin tidak terkendali.

“Karena pembakaran ban mobil di halaman Kantor DPRD Majene sudah terjadi dengan sigapnya petugas keamanan menyemprot ban dengan menggunakan Apar (Alat pemadam api ringan) dan pada saat itu, pengunjuk rasa berhamburan keluar, hingga beberapa pengunjuk rasa melakukan pelemparan gedung DPRD Majene, dan mengakibatkan beberapa kaca jendela pecah,” terangnya.

Dikatakannya, dalam aksi pelemparan mengenai beberapa petugas kepolisian yang melakukan pengamanan serta mengenai beberapa masyarakat sipil. Selain itu. para pengunjuk rasa ini juga mencoret-coret pagar tembok gedung DPRD Majene dengan kata-kata tidak pantas dengan menggunakan cat pilox.

” Saat ini pihak kami tengah mengamankan beberapa barang bukti (BB). Diantaranya video dan foto selama berlangsung aksi unjuk rasa, video dan foto olah TKP, serta sejumlah barang bukti lainnya,” rinci Pandu. (edy/ade)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *