Politik

Kursi Petahana ‘Digoyang’ Sesama Kader PPP di Majene

PAREPOS.CO.ID,MAJENE— Dinamika politik di Kabupaten Majene kian menyajikan tontonan dan pembahasan yang menarik. Para penguasa di berbagai lini mulai memainkan trik dan intrik untuk memuluskan jalan menuju perhelatan Pilkada Majene 2020. Kursi yang diduduki petahana pun, juga mulai “digoyang”. Bagaimana tidak? Sebagai partai pemenang di Pileg 2019, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kian seksi. Dua kadernya pun kini saling berupaya untuk menggunakan partai berlambang Kakbah tersebut. Ketua DPW PPP Sulbar, H Fahmi Massiara yang juga merupakan ‘Petahana’ ditantang Ketua DPC PPP Majene. H Asnuddin Sokong.

Setelah sempat mendaftarkan diri di beberapa Partai Politik (Parpol) seperti di PDIP, PKS dan terakhir di PKB, H Asnuddin Sokong kembali angkat bicara soal keseriusannya maju di Pilkada Majene 2020. Ketua DPC PPP Kabupaten Majene itu, mengatakan dalam menghadapi pilkada serentak nanti dirinya tetap serius dan merasa optimis bisa mulus dalam pesta demokrasi lima tuhunan tersebut.

Diakuinya, walaupun bakal bersaing dengan koleganya sendiri yang tak lain adalah Ketua DPW PPP Sulbar, H Fahmi Massiara dirinya sudah jauh hari mempertimbangkan dengan matang hal itu. “Iya benar saya serius untuk maju di pilkada Majene. Saya sudah mendaftar di beberapa parpol yang sudah buka pendaftaran sebagai langkah awal dalam proses menuju pilkada,”ujar mantan anggota DPRD Sulbar, Jumat 18 Oktober 2019.

Soal partai yang dinakhodainya yaitu PPP, dengan lantang mengatakan yang mendaftar itukan person atau pribadi Asnuddin Sokong bukan sebagai Ketua DPC PPP. Sehingga itu wajar bagi setiap orang di negeri demokrasi ini. “PPP sendirikan belum mengeluarkan rekomendasi siapa yang akan mengendarainya. Baik pak Fahmi Massiara selaku Ketua DPW maupun saya selakau Ketua DPC. Keputusan DPP PPP sampai saat ini itu belum ada,”tegasnya.

Kendati demikian, sebagai kader partai tentunya harus loyal dan ikut mekanisme partai. Namun, kalau tidak ingin ikut aturan partai tentu ceritanya beda lagi dan itu sudah reziko. Karena yang namanya pilihan pasti ada rezikonya. “Intinya, saya selaku orang muslim mengerti dan memahami betul yang namanya harta, jabatan dan lainnya itu adalah amanah. Suatu saat kalau bukan semua itu yang meninggalkan kita, pasti kita yang akan meninggalkannya,”katanya.

Kebulatan hati untuk maju di Pilkada Majene, kata Asnuddin, semata-mata merasa ada panggilan moril untuk membangun serta mengabdikan diri kepada rakyat secara luas. “Yang pasti, Majene saat ini butuh perubahan mendasar dan pemimpin yang lebih baik. Namun, bukan berarti pemimpin yang ada saat ini tidak baik, tetapi masyarakat masih butuh yang lebih baik lagi,”tegas pengusaha minyak di Sulbar tersebut. (edy/ade)

TRENDING

To Top